“El, beneran mau kuliah di London?”Pertanyaan itu sudah Anindya ulang berkali-kali sejak seminggu terakhir, tapi tetap saja rasanya belum siap menerima jawaban yang sama.Di hadapannya sekarang duduk seorang pemuda tujuh belas tahun dengan bahu lebar dan sorot mata tenang. Anak yang dulu dia ajarkan matematika sambil ngambek karena salah hitung, sekarang sudah bicara soal visa, kampus, dan masa depan.Waktu memang tidak pernah pelan. Waktu selalu berlari, meninggalkan ibu-ibu yang belum selesai memeluk anaknya.Padahal sejak bulan lalu Elvio sudah resmi diterima di Brunel University London. Bahkan sudah mendaftar sekolah balap untuk mengejar mimpi lamanya, yaitu Formula 1. Mimpi yang dulu pernah Arvendra tolak mentah-mentah, lalu diam-diam dia dukung dari belakang.Tetap saja, mengetahui besok pagi anak itu benar-benar akan pergi, rasanya seperti ada bagian kecil di dada Anindya yang ikut dibawa.“Miya,” jawab Elvio sabar, nada suaranya sekarang jauh lebih dalam daripada dulu, “aku u
최신 업데이트 : 2026-02-18 더 보기