Arvendra tidak langsung menjawab. Dia melepas genggamannya perlahan, lalu membuka jaket yang dikenakannya dengan gerakan tenang. Jaket itu disampirkan ke bahu Anindya, menutupi blouse putih yang basah oleh kopi. Sentuhan itu hangat. Namun, jeda yang menyertainya justru terasa dingin. Elea menyeringai tipis. Senyum puas seseorang yang merasa berada di posisi unggul. “Nah, apa aku bilang? Kamu nggak akan menang, Anindya,” kata Elea ringan, nyaris mengejek. Kalimat itu, ditambah sikap Arvendra yang sejak tadi berdiri di tengah, membuat keberanian Anindya yang sempat membara, menguap begitu saja. Serius? Di titik ini, pria itu menahannya, melindunginya, bahkan menutupinya. Tapi tetap membiarkan Elea bicara. Arvendra akhirnya angkat suara. Rendah. Datar. Tidak meninggi, tidak emosional. “Kalau kamu mau cari panggung,” kata Arvendra sambil menatap Elea lurus, “pilih tempat lain. Bukan di sini.” Elea mendengus kecil. “Lihat? Bahkan kamu pun–” “Sentuh dia lagi,” potong Arve
Última actualización : 2026-01-04 Leer más