Share

Bab 160: Berita Lainnya

Penulis: Duvessa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-10 01:40:43

Anindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”

“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”

Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.

Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”

Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”

“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”

Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”

“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 162: Gara-Gara Aku

    Anindya bangkit perlahan dari kursinya. Dia tidak mendekat, tidak pula menjauh. Hanya berdiri. Cukup dekat untuk peduli, cukup jauh untuk tidak mengambil alih. Menjadi saksi, bukan pusat.Arvendra membeku di tempat. Wajahnya berubah, bukan marah, bukan pula iba. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk langsung bereaksi.“Apa yang kamu lakukan, Ive?” tanya Arvendra rendah.Ivelle menggeleng cepat. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Aku egois. Aku tahu Elvio lagi nggak enak badan, tapi aku maksa ajak dia keluar. Aku cuma mikirin diri aku sendiri.”Wanita itu menunduk. Bahunya bergetar hebat. “Kalau sampai terjadi apa-apa sama Elvio, aku nggak akan pernah maafin diri aku sendiri.”Hening menyelimuti ruangan.Suara monitor terdengar pelan, stabil. Elvio masih tertidur, napasnya teratur. Anindya melirik bocah itu sekilas untuk memastikan, lalu kembali menatap Ivelle. Kali ini, bukan dengan kewaspadaan. Ada empati di sana. Tidak lunak, tapi jujur.Arvendra menghela napas panjan

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 161: Ayah yang Hebat

    “Pasien atas nama Elvio Dirgantara Pradipta, di sebelah mana ya, Sus?” tanya Anindya pada perawat yang melintas di ruang IGD.Begitu telepon dari Arvendra terputus, dia langsung meluncur ke rumah sakit. Tidak sempat berganti pakaian. Hanya menggosok gigi dan mencuci muka sekadarnya. Rambutnya masih diikat asal, wajahnya polos tanpa riasan. Berantakan, tapi tidak penting. Yang dia pedulikan hanya satu: Elvio.“Dari sini lurus saja, Bu. Paling ujung,” jawab perawat itu ramah, menunjuk ke arah kanan.“Terima kasih.”Anindya hampir berlari menyusuri lorong. Detak jantungnya terasa terlalu keras di telinga. Begitu sampai di bangsal yang dimaksud, dia menarik tirai perlahan, dan dadanya langsung mengencang.Arvendra duduk di kursi di sisi ranjang, tubuhnya condong ke depan, siku bertumpu di lutut. Wajahnya tertunduk. Kusut. Seperti seseorang yang sudah berjam-jam tidak bernapas dengan benar.Di atas ranjang, Elvio tidur. Kulitnya pucat, bibirnya kering, selang infus terpasang di tangan keci

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 160: Berita Lainnya

    Anindya menghela napas pendek. Bukan kesal. Lebih ke lelah menghadapi tuduhan, dan terlalu malas untuk verifikasi. “Maaf, Kak, aku dapat kerja bukan dengan menjilat. Aku dapat pekerjaan ini karena relasi.”“Oh, jelas,” sahut Isabella cepat, senyum sinis mengembang. “Relasi dari om-om kamu, ‘kan?”Nada itu sengaja dibuat ringan, tapi tajam. Beberapa orang di lorong mulai memperlambat langkah, pura-pura sibuk tapi telinga mereka jelas menangkap arah percakapan.Anindya mengangguk kecil, seolah mempertimbangkan. “Wah, ternyata gosip cepat menyebar ya,” katanya santai. “Tapi nggak apa-apa, memang itu faktanya.”Senyum Isabella mengembang setengah. “Nah, jujur juga akhirnya.”“Bedanya,” Anindya menyambung tanpa terburu-buru, “mereka nerima aku bukan karena kenal calon suami aku. Tapi karena wajah aku cocok sama produk mereka. Itu yang dicari brand, ‘kan?”Isabella tertawa pendek, hambar. “Percaya diri banget.”“Harus,” balas Anindya datar. “Soalnya kalau aku sendiri nggak percaya sama valu

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 159: Bali dan Jakarta

    “Ngapain kamu masih di sini?” Anindya menahan suaranya, tapi nadanya jelas tidak main-main. “Sana keluar. Debat lagi sama Mbak Ive kalau mau. Biar aku yang urus Elvio.”Arvendra menatap Anindya sesaat, lalu akhirnya menghela napas panjang. Emosinya memang belum turun sepenuhnya, tapi dia tahu Anindya benar.Usai perdebatan panas itu, Ivelle memilih turun ke kamarnya. Pintu kamar Elvio kini tertutup rapat, menyisakan udara yang masih tegang. Arvendra tetap di sana, berdiri beberapa langkah dari ranjang. Hari ini, Ivelle sudah terlalu sering melewati batas. Dan dia tidak suka itu.Beberapa detik berlalu sebelum Arvendra akhirnya duduk di sisi ranjang. Tangannya mengusap rambut Elvio perlahan, lebih hati-hati dari sebelumnya.“Jangan nyindir begitu dong, Sayang,” ucap Arvendra pelan, nada suaranya sudah jauh lebih rendah. “Ive memang keterlaluan. Dia nggak tahu prioritas.”Anindya tidak langsung menjawab. Dia merapikan selimut Elvio lebih dulu, memastikan tubuh kecil itu tertutup dengan

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 158: Layar yang Retak

    “Kita beli ponsel buat kamu dulu ya?” tawar Arvendra.Kini dia sudah duduk di kursi kemudi. Anindya di sebelahnya, masih memandangi layar retak itu, ibu jarinya mengusap sudut yang pecah seolah berharap garisnya menghilang.Usai fitting baju pengantin, mereka memutuskan langsung pulang. Takut Elvio menanyakan keberadaan mereka, meski ada Ivelle di vila. Arvendra bahkan memilih memesan makan malam secara daring, tidak ingin merepotkan siapa pun, terlebih setelah insiden mangkuk pecah sebelumnya.“Nggak usah, Mas. Masih bisa dipakai kok,” tolak Anindya. “Nanti aku ganti layarnya aja. Nggak perlu ganti ponselnya.”Arvendra melirik sebentar, menatap layar retak itu, lalu kembali menatap jalan di depannya. “Iya, memang masih bisa. Tapi menurut Mas, lebih baik diganti aja.”Anindya menghela napas kecil. “Mas ini kebiasaannya gitu. Ada yang rusak dikit, langsung diganti.”“Bukan soal rusaknya,” jawab Arvendra tenang. “Kata orang, jangan kebiasaan nyimpen barang yang retak. Katanya bawa energ

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 157: Firasat

    Anindya berdiri di ruang fitting gaun pengantin, dan kali ini, tidak ada bisik-bisik yang membuat bahunya mengeras. Tidak ada tatapan yang menimbang usianya, tubuhnya, atau masa lalunya. Yang ada hanya cahaya putih lembut, kain-kain yang digantung rapi, dan suasana tenang yang membuat napasnya kembali ke ritme normal.Ternyata, telepon tadi berasal dari wedding organizer. Mereka menemukan butik lain, lebih kecil, lebih privat, dan entah bagaimana terasa jauh lebih manusiawi.“Saya bantu pasang resletingnya, Nona,” ujar salah satu staf perempuan dengan senyum hangat.Anindya mengangguk. Gaun putih yang dipilihnya sederhana, dirancang untuk pesta outdoor. Potongannya bersih, jatuh mengikuti lekuk tubuh tanpa berusaha berlebihan. Tidak banyak payet, tidak berat.Rambut Anindya ditata setengah terikat. Beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Tidak ada mahkota, tidak ada hiasan besar, hanya dirinya versi yang utuh, yang tidak sedang membuktikan apa pun.“Kita bisa keluar sekara

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status