Pagi itu ruang makan dipenuhi cahaya matahari yang masuk dari jendela besar. Meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan sup hangat, roti panggang, telur, buah segar, dan segelas susu. Nadine duduk di ujung meja, wajahnya berseri-seri. Eliza duduk di sampingnya, dagu bertumpu di tangan, matanya sesekali melirik ke arah tangga. “Kenapa lama sekali?” gumam Eliza. “Kakak ipar pasti kelelahan.” Nadine mengangguk setuju. “Biarkan saja. Ibu hamil memang harus banyak istirahat.” Tak lama kemudian, aku muncul bersama Andreas. Baru saja aku melangkah mendekat, Nadine langsung berdiri. “Menantu, sini, sini,” katanya cepat. “Duduk di sini, dekat mama.” Aku sedikit kikuk tapi tersenyum. “Iya, Ma.” Nadine langsung menarik kursi, menata bantal kecil di punggungku, lalu menuangkan sup hangat ke mangkukku. “Makan yang pelan,” ucapnya lembut. “Kalau mual, bilang. Jangan dipaksa.” Eliza ikut mencondongkan tubuh. “Kakak ipar mau susu hangat atau jus?” “Susu saja,” jawabku pelan. El
最終更新日 : 2026-01-22 続きを読む