Benerapa jam sebelumnya. Tok.. tok... tok... "Nana... kamu udah siap belum?" Itu suara Dikta. Aku melangkah hendak membuka pintu, tapi sebelum tanganku menyentuh gagang, Andreas menarikku dengan cepat. Tubuhku terhimpit ke dinding. Kedua tanganku diangkatnya ke atas kepala, ditahan oleh satu tangan besarnya. Wajahnya mendekat, napasnya menyentuh pipiku. “Ngapain sih...” bisikku panik. Namun jawabannya bukan kata-kata. Bibirnya menutup bibirku, cepat, tegas, penuh kepemilikan. Di luar, ketukan kembali terdengar. “Nana? Pernikahan sebentar lagi dimulai. Kamu udah siap belum?” Aku menahan napas, jantungku nyaris melonjak keluar. Andreas baru melepaskanku beberapa detik kemudian, dahinya menempel di keningku. “Jawab,” bisiknya pelan. Aku menelan ludah, lalu membuka pintu sedikit. Dikta berdiri di sana dengan jas pengantin hitam. Begitu melihatku, matanya membesar. Ia terpaku beberapa detik. “Nana…” katanya pelan, jelas terpesona. “Kamu… cantik banget.” Aku
Last Updated : 2026-01-15 Read more