Pagi itu langit New York cerah. Taxi yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan gerbang besi hitam menjulang tinggi. Di baliknya berdiri rumah megah bergaya klasik-modern paling besar di seluruh lingkungan itu. Catalina menatap kagum. “Rumahnya besar banget…” Hansen turun lebih dulu, lalu membantu Catalina keluar. Ia menarik koper besar berisi perlengkapan bayi. “Hah, biasa aja,” katanya santai. Catalina menahan tawa. “Iya, biasa buat keluarga sultan.” Begitu mereka mendekat, pagar besi itu terbuka otomatis dengan suara halus. Catalina makin terpana. “Canggih banget…” Mereka berjalan masuk. Pintu utama terbuka lebar. “Permisi,” panggil Hansen sopan. Seorang gadis muda yang sedang membawa tas bekal makanan berhenti dan menoleh. “Iya?” ucapnya. Tatapan Hansen langsung menyadari kemiripan itu, alis tegas, garis rahang, aura dingin yang familiar. Gadis itu bertanya sopan, “Cari siapa ya?” Hansen tersenyum tipis. “Aku Hansen. Dan ini Catalina, istriku.” Ca
Read more