Andreas baru saja menutup panggilan dari kliennya. Kalimat terakhir masih menggantung di udara ketika perasaan aneh itu kembali datang tidak nyaman. Gelisah. Seperti ada sesuatu yang salah. Ia berdiri tiba-tiba. Langkahnya cepat menuju ruang kerjaku. Lampu mejaku masih menyala. Tapi kursinya kosong. Alisnya berkerut. “Nadira?” Tak ada jawaban. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia melangkah menuju pantry. Dari kejauhan tak terlihat apa-apa. “Di mana dia…” gumamnya, suaranya mulai serak. Lalu, Langkahnya terhenti. Di lantai, ada garis merah. Tipis. Terseret. Darah. Napas Andreas langsung tercekat. Jantungnya seperti dihantam palu. Pandangan matanya mengikuti jejak itu, Dan dunia seolah berhenti berputar. Aku tergeletak di lantai.Bersimbah darah. Tubuhku tak bergerak. Wajahku pucat. “NADIRA!” Suara Andreas pecah. Benar-benar pecah. Ia berlari, berlutut di sampingku. Tangannya gemetar saat mengangkat tubuhku ke pangkuannya. “Sayang… buka matamu… lihat aku…” Tidak ad
Última atualização : 2026-02-15 Ler mais