Begitu pintu kamar hotel tertutup, dunia seakan ikut terkunci di luar. Aku bahkan belum sempat melepas sepatuku saat Andreas berbalik, menatapku sejenak seolah memastikan ini nyata. Detik berikutnya tangannya sudah di pinggangku, menarikku mendekat. “Nana…” ucapnya pelan, nyaris seperti napas. Aku mendongak. “Iya?” Jawabanku tenggelam karena bibirnya lebih dulu menyentuh bibirku. Ciumannya hangat, penuh rindu yang selama ini tertahan. Aku membalas, jemariku mencengkeram jasnya. Degup jantung kami seirama, sangat dekat. Saat kami melepas, napas kami sama-sama berat. “Kamu capek,” katanya, keningnya menyentuh keningku. “Mandi dulu.” Aku tersenyum kecil. “Bareng?” Ia mengangkat alis, lalu terkekeh pelan. “Kalau kamu mau.” Di kamar mandi, uap air mulai memenuhi ruangan. Andreas menyalakan shower, lalu berdiri di belakangku, tangannya menopang lenganku dengan hati-hati. “Pelan-pelan,” bisiknya. “Kamu masih harus dijaga.” Aku menoleh, menatap wajahnya yang kini terli
最終更新日 : 2026-01-20 続きを読む