Malam itu menjadi titik balik. Bukan hanya bagi pesta… tapi bagi hidup Maudy. Beberapa jam setelah kejadian itu, rekaman dari layar aula mulai menyebar. Awalnya hanya dari ponsel para tamu. Lalu masuk ke grup-grup kecil. Kemudian tanpa terkendali berpindah ke media sosial. Dalam hitungan jam, nama Maudy menjadi bahan perbincangan. Komentar demi komentar bermunculan. “Ini yang katanya adik keluarga terpandang?” “Memalukan banget.” “Di acara kakaknya sendiri loh!” “Gak punya harga diri.” Video itu dipotong, diedit, diberi judul sensasional. Semakin menyebar. Semakin liar. Di sebuah kamar sempit yang gelap, Maudy duduk di lantai. Ponselnya bergetar tanpa henti. Notifikasi terus masuk. Ia membuka satu per satu. Komentar. Hinaan. Cemoohan. Tangannya gemetar. “Tidak… tidak… ini gak mungkin…” Ia melempar ponselnya ke kasur. Namun beberapa detik kemudian, ia mengambilnya lagi. Seolah tidak mampu berhenti. Air matanya jatuh, tapi bukan karena p
Read more