Butik itu dipenuhi cahaya siang yang masuk dari jendela kaca besar. Interiornya tampak mewah namun tetap hangat dinding berwarna krem lembut, rak kayu walnut yang rapi, dan sofa beludru di sudut ruangan. Di tengah ruangan, berbagai gulungan kain terbentang di atas meja panjang. Aku berdiri di sana dengan beberapa lembar sketsa di tangan. “Yang ini kita pakai silk satin, jatuhnya harus ringan,” kataku sambil menunjuk gambar gaun di kertas. Salah satu karyawan yang direkomendasikan Dirga, Rina, segera mencatat. “Baik, Bu Nadira.” Sementara karyawan lainnya, Maya, memegang beberapa contoh kain. “Yang ini bagaimana, Bu?” tanya Maya sambil memperlihatkan kain berwarna champagne. Aku menyentuhnya sebentar. “Teksturnya bagus… tapi terlalu berat. Cari yang lebih ringan.” “Baik, Bu.” Aku kembali memeriksa sketsa berikutnya. “Untuk koleksi pembukaan nanti kita buat tiga konsep dulu. Elegan, feminin, tapi tetap modern.” “Jangan terlalu ramai di detail. Aku lebih suka po
Baca selengkapnya