Siang itu butik dipenuhi kesibukan. Suara mesin jahit terdengar bersahutan, kain-kain mewah terbentang di berbagai meja kerja, dan beberapa pelanggan terlihat menunggu dengan sabar sambil sesekali melirik ke arahku. Aku berdiri di tengah ruangan, memegang beberapa sketsa sekaligus. “Yang ini ubah potongannya jadi lebih slim, bagian bahu jangan terlalu kaku,” ucapku cepat pada salah satu penjahit. “Iya, Bu Nadira.” Belum sempat aku beralih “Bu, untuk pesanan gaun malam yang ini, kainnya mau tetap pakai silk atau diganti?” tanya karyawan lain. Aku menoleh. “Ganti ke satin premium. Warnanya tetap, tapi aku mau jatuhnya lebih tegas.” “Baik, Bu.” Aku menghela napas pendek. Belum selesai satu, datang lagi yang lain. “Bu, fitting jam dua sudah datang.” Aku mengangguk. “Iya, tunggu di ruang fitting. Aku ke sana lima menit lagi.” “Siap.” Di tengah semua itu Danuel berdiri di sampingku, tablet di tangannya, mencatat semuanya dengan cepat. “Jadwal hari ini overbooked,” ucapnya
더 보기