Ruangan itu kembali sunyi,hanya tersisa suara mesin yang berdetak pelan, ritmis, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa waktu masih berjalan.Andreas duduk di samping ranjang,tangannya menggenggam tangan Nadira erat,lebih erat dari biasanya,seolah takut jika ia melepas sedikit saja,Nadira benar-benar akan pergi.Ia menunduk,keningnya menyentuh punggung tangan Nadira.“Nadira…”suaranya lirih,serak, hampir pecah.“Semua orang… mulai nyuruh aku lepas kamu…”napasnya bergetar,genggamannya semakin kuat.“Mereka bilang… kamu gak akan bangun…”Ia menggeleng pelan,air matanya jatuh tanpa suara.“Tapi aku gak percaya…”suaranya melemah,“aku gak akan pernah percaya…”Ia mengangkat kepala,menatap wajah Nadira,yang tetap tenang,diam,seolah hanya tertidur panjang.“Kenapa mereka mau misahin kita…”bisiknya pelan,“Aku masih di sini…”“Aku masih nunggu…”Tangannya terangkat,mengusap pipi Nadira dengan lembut,penuh kehati-hatian,seolah menyentuh sesuatu yang bisa pecah kapan saja.
더 보기