Ruangan itu hening.Tak ada lagi suara mesin.Tak ada lagi bunyi monitor.Semua alat bantu telah dilepas.Yang tersisa,hanya Nadira,dan napasnya yang semakin pelan,semakin lemah,seperti nyala yang perlahan meredup.Andreas duduk di tepi ranjang.Diam.Matanya tak lepas dari wajah istrinya.Wajah itu kini berbeda.Pucat,terlalu kurus,rapuh,seolah waktu menggerusnya sedikit demi sedikit.Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Nadira.Dingin.“Nadira…”suaranya nyaris hilang.Ia mendekat,lalu mengecup bibir Nadira,lama,dengan air mata yang terus jatuh,seolah itu satu-satunya cara ia bertahan.Di luar ruangan,keluarga berdiri.Nadine menunduk,Eliza menangis dalam diam,Hansen berdiri dengan wajah kaku,Catalina memeluk Rayhan erat.Mereka semua tahu,ini akhir dari penantian panjang.Dan mereka semua menjadi saksi,bagaimana selama tiga tahun,Andreas tidak pernah pergi,tidak pernah menyerah.Siang,malam,ia selalu ada,menjaga,menunggu,mencintai,dengan cara yang tak semu
Baca selengkapnya