“Aku…” Ariel tertawa kecil, getir, lalu menenggak vodkanya. Cairan bening itu turun cepat, menyisakan panas di tenggorokannya. “Ah… rasanya aku ingin melakukan sesuatu yang kotor.” Nathan mengernyit, menoleh padanya. “Sesuatu yang kotor? Seperti apa maksudmu?” Ariel mengangkat bahu, senyum tipis menghiasi bibirnya—senyum yang tampak berani, tapi matanya lelah. “Um… mungkin melakukan hubungan intim,” katanya asal, seolah kalimat itu hanya gurauan yang bisa ditarik kembali kapan saja. “Kau serius?” tanya Nathan, suaranya rendah. Ariel menoleh, menatap lurus ke mata pria itu. “Ya, Dok. Aku mana pernah bercanda soal hal seperti itu.” Musik jazz makin sayup-sayup, seolah memberi ruang bagi kejujuran yang telanjang—bukan tubuh, melainkan perasaan. Nathan terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, tanpa nada bercanda, “Kau bisa melakukannya denganku.” Ariel membatu. Jantungnya berdegup kencang. “Dokter… serius?” Nathan mengangguk pelan. “Kita sudah saling kenal. Dan ini buka
Última actualización : 2026-01-22 Leer más