Hening. Benar-benar hening. Zayn melotot, Gemma mematung, Ariel hanya menggigit bibir resah. “Wait—apa?” Zayn akhirnya bicara. “Nate, kau ini ngomong apa sih? Kenapa Ariel harus ikut pulang sama kalian?” Baru kali ini Nathan mengalihkan tatapan, menatap Zayn dengan dinginnya yang khas. “Tentu saja karena Ariel sekarang tinggal di apartemenku.” Zayn membeku. Gemma juga sama terkejutnya. Ariel langsung menunduk, wajahnya merah padam. “Hah?” Zayn mencondongkan tubuh ke Ariel. “Riel? Sejak kapan kau tinggal di apartemennya Nate?” Suara Ariel pelan, hampir tenggelam dalam keributan lobi. “Sejak beberapa hari yang lalu… kan aku pernah cerita...” Zayn berdiri tegap, suaranya meninggi. “Oh iya, aku lupa... tapi, bukan berarti kau harus ikut dengannya, kan?” Ariel menggenggam ujung jaketnya. “Zayn, nanti kita ngobrol ya. Aku pulang dulu.” Nathan melangkah sedikit mendekat, seolah memberi tekanan halus. “Ariel, kita pulang.” “I… iya, dok,” Ariel akhirnya patuh, meski suara
Last Updated : 2026-01-04 Read more