Malam itu, ternyata hujan deras mengguyur kota, membuat jalanan licin dan sepi. Mobil Nathan terparkir di pinggir apartemen kecil nan sepi, jauh dari lampu jalan yang redup. Ciuman lembut, seperti hembusan angin yang lembut. Tangan Nathan kini memegang pipi Ariel dengan lembut, jari-jarinya menyusuri garis rahang wanita itu, membuatnya merinding. "Ariel," bisiknya di sela ciuman, suaranya dalam dan hangat, "kau manis sekali malam ini." Ariel terkejut sesaat lalu tersenyum di balik bibirnya, membalas ciumannya dengan lebih dalam. Lidahnya menyentuh lidah Nathan pelan, menari-nari seperti dua kekasih yang baru bertemu setelah lama terpisah. Mobil terasa lebih sempit sekarang, kursi belakang yang mereka pilih sengaja untuk praktek malam ini mulai terasa panas. Nafas Ariel mulai memburu, dada naik-turun cepat. Ciuman yang tadinya lembut itu berubah. Bibir sang dokter menekan lebih keras, gigitan ringan di bibir bawahnya membuatnya mengerang pelan. "Oh, dokter...," desah Ariel, tang
Last Updated : 2025-12-19 Read more