Buah dada Ariel yang montok, ukuran B yang sempurna, terasa begitu lembut di tangan Nathan, seperti buah matang yang siap dipetik. Ia meremas lebih keras, melepas kancing-kancing dress Ariel dengan tak sabaran, menarik dress-nya ke bawah hingga bra hitamnya terlihat, puting merona yang mengeras menonjol mencolok. Nathan tak berhenti di situ. Tangannya yang lain meluncur ke bawah, menyusuri perut rata Ariel, melewati pinggul yang melebar sempurna, hingga akhirnya menyelip masuk ke celana dalam sutra yang sudah basah kuyup. Jarinya langsung menemukan organ tersensitif Ariel yang membengkak, menggosoknya dengan gerakan melingkar yang ahli. "Bukannya ini sangat enak?" gumam Nathan sambil mencium lehernya lagi. "Kau sudah banjir begini. Kau bilang jangan, tapi tubuhmu bilang ya." Ariel menggeliat hebat, pinggulnya terangkat otomatis menyambut sentuhan itu. "Ah... dokter... jangan di situ... ohh..." desahnya, klitorisnya yang sensitif berdenyut-denyut di bawah jempol Nathan, cairan k
Last Updated : 2026-01-09 Read more