Pagi itu datang dengan keraguan yang nyata, seolah sang fajar sendiri enggan mengusik keheningan di dalam apartemen lantai dua belas tersebut. Cahaya matahari merambat pelan, menyelinap di antara celah tirai krem yang tipis, lalu jatuh di atas lantai kayu ek yang dingin. Cahaya itu tidak membawa kehangatan, melainkan hanya mempertegas bayangan benda-benda yang membisu—kursi yang kosong, tumpukan buku yang tak tersentuh, dan kesunyian yang terasa mencekik. Nathan terbangun dengan sentakan kecil di dadanya. Napasnya memburu, seakan baru saja berlari mengejar sesuatu yang tak kasatmata dalam mimpinya. Dahi pria itu berkerut, sisa-sisa kegelisahan malam tadi masih tertinggal di pelipisnya yang lembap. Secara insting, tangannya bergerak menyamping, meraba permukaan seprai di sisi ranjang yang seharusnya tidak kosong. Dingin. Seprai itu rata, rapi, dan tak menyisakan sedikit pun kehangatan manusia. Nathan membuka matanya lebar-lebar, menatap langit-langit kamar dengan perasaan hampa
Last Updated : 2026-02-01 Read more