Mobil Nathan melaju cepat ketika meninggalkan kawasan mall itu. Ariel duduk gelisah di kursinya, tangan meremas ujung dress yang ia kenakan. Ia menunduk, rambutnya jatuh ke depan wajah, menutupi pipi yang merah sejak mereka meninggalkan toko itu.Nathan menyetir dengan wajah serius, rahang tegang, mata terarah ke jalan seolah mengabaikan segala hal termasuk ingatan intens di fitting room. Tapi Ariel tahu — ia tidak benar-benar mengabaikannya. Sesekali, Nathan melirik, dan setiap lirikan itu membuat Ariel ingin bersembunyi ke dasar bumi.“Masih memikirkan tadi?” suara Nathan akhirnya pecah, rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan.Ariel tersentak kecil. “Nggak kok, Dok....” kelitnya.Nathan mengangkat alis ringan, tapi tetap menatap jalan. "Tapi aku masih memikirnya..."DegNathan memelankan laju mobil, menyalakan hazard sebentar. “Jalan hampir nggak kelihatan,” gumamnya. “Kalau begini terus, kita harus—”Tiba-tiba, dari arah depan, kilatan petir menyambar. Hujan menggila. Nathan men
Last Updated : 2025-12-10 Read more