“Ah, akhirnya! Minim coretan tinta merah,” seruku sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. “Harus dirayakan nih.”Safa bersandar pada tembok lalu menguap lebar. “Syukurlah. Lembur berhari-hari sampai lupa maraton drachin akhirnya berbuah manis.”“Nongki yuk,” ajakku.“Kemana?”“Cafe Mama. Lama banget kita nggak ke sana.”“Boleh, yuk—”Kami pun berdiri, menepuk-nepuk celana yang kotor, lalu berjalan menuju parkiran.Meski hasil bimbingan hari ini masih ada beberapa revisi, tapi masih dalam tahap wajar.“Kayaknya akhir bulan ini kita bisa ajukan sempro, Bee,” ucap Safa dengan mata berbinar.“Hm, aku juga mikir gitu, Sa.”“Gak sabar masuk tahap penelitian.”“Alah, bilang aja kamu mau cari mangsa.”“Sembarangan kamu, Bee! Emangnya aku binatang buas?”“Haha, hampir sejenis sih, Sa.”“BINAR!!!”Aku reflek menoleh dan langsung berlari keluar dari lobby fakultas, menuju mobil yang terparkir tak jauh dari gedung. Sementara Safa hanya mendengkus kesal dari kejauhan, sama sekali tak terpiki
Terakhir Diperbarui : 2025-12-09 Baca selengkapnya