Kalau Om Kais tidak menahanku, sudah ku cabik-cabik bibir dua wanita julid tadi! Berani sekali menjelek-jelekkan Safa dan memfitnahku! "Sayang, tenang dulu," ujar Om Kais lembut sambil menarik tanganku menjauh dari kantin. "Bunny, mereka keterlaluan banget! Aku nggak terima!" protesku, masih dengan nafas yang memburu. Om Kais tidak menjawab. Dia malah menarikku ke sudut koridor yang lebih sepi, lalu memelukku erat. "Aku tahu kamu kesal," ucap Om Kais sambil menepuk-nepuk punggungku pelan. "Tapi kamu gak boleh melakukan kekerasan, Sayang.” Pelukan hangat Om Kais membuat dadaku yang sesak perlahan mulai lega. Emosiku yang tadinya menggebu-gebu mulai mereda. "Mereka nggak punya hak ngejudge Safa, Bunny. Safa itu baik banget. Dia nggak pantas dapet omongan kayak gitu," gumamku pelan, masih dalam pelukan Om Kais. "Iya, aku tahu, Sayang," jawab Om Kais sambil melepaskan pelukannya, lalu menatap wajahku. "Udah mendingan?" Aku mengangguk pelan. "Udah, Bunny. Makasih ya." "Bag
Terakhir Diperbarui : 2025-12-11 Baca selengkapnya