“Tidak ada sekretaris yang memperlakukan bosnya seperti ini,” gerutu Aresh pelan sambil menatap sofa yang jelas terlalu kecil untuk tubuhnya. Nada suaranya mengandung keluhan, tapi juga kelelahan yang dalam. Hana melirik sekilas, lalu menjawab santai, hampir tanpa emosi, “Kalau begitu, pecat saja saya, Pak.” Aresh langsung menggeleng. Cepat, refleks, seolah kata itu bahkan tidak pantas menjadi kemungkinan. “Tidak.” Nada itu tegas, tanpa ragu, sehingga Hana mengangkat alis. “Kenapa? Bukankah saya sekretaris yang galak, tidak sopan, dan tidak tahu diri pada atasan?” Aresh menatapnya lama. Di matanya, Hana bukan sekadar sekretaris. Ia adalah tangan kanan, penyeimbang, satu-satunya orang yang berani menegurnya tanpa takut kehilangan jabatan. Banyak keputusan besar, banyak krisis perusahaan, banyak langkah strategis yang berhasil karena ketelitian dan keberanian Hana. “Kamu itu langka,” ucap Aresh akhirnya, jujur. “Sebagian besar kesuksesanku… ada campur tanganmu. Aku tidak mungkin
Terakhir Diperbarui : 2026-01-24 Baca selengkapnya