Kaiser menyetir dengan tenang, dua tangannya mantap di setir. Sejak kami meninggalkan rumah tadi, dia tidak banyak bicara. Tidak menanyakan apa pun, tidak memaksaku menjelaskan. Sikapnya itu, entah kenapa justru membuat dadaku terasa sesak.“Kalau capek, tidur saja,” ucapnya setelah terdiam beberapa lama, suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin.Aku menggeleng dengan pandangan masih menatap kosong ke luar jendela.“Nanti saja.”Dia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan di matanya. Tidak ada tuntutan. Kaiser selalu seperti itu, memberi ruang, bahkan ketika aku sendiri sedang kacau.Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Saat mobil memasuki gerbang kampung, langit sudah berwarna jingga keemasan. Bau tanah basah dan suara jangkrik menyambut, membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.Rumah nenek masih berdiri seperti dulu, sederhana, dengan teras kayu dan pot-pot bunga yang dirawat dengan penuh kesabaran. Begitu mobil berhenti, pintu
Last Updated : 2026-01-20 Read more