"Aku tidak menolak tidur di sebelah kandang sapi, Bu."Aaron menjawab dengan tenang.“Aku sudah senang dibolehkan menginap di sini, Bu,” ucap Aaron tenang, nyaris tanpa jeda setelah cibiran itu. Nada suaranya rendah, sopan, seolah tidak ada luka yang perlu dibela. Ibu mendengus, lalu berbalik tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, pintu rumah dibanting sedikit lebih keras dari perlu. Suara itu menggema singkat, lalu lenyap, meninggalkan halaman yang kembali sunyi. Aku berdiri terpaku. Mataku panas, berkaca-kaca. Malam terasa makin dingin. Aaron menoleh padaku. Senyum kecilnya muncul—lembut, menenangkan—yang justru membuat dadaku makin sesak. “Hey,” katanya pelan. “Aku tidak apa-apa.” “Maaf,” ucapku lirih. “Seharusnya aku—” Ia menggeleng dengan ekspresi tenang, “Tidak perlu. Ini bukan salahmu.” “Tapi… kandang sapi,” suaraku bergetar. “Aku tidak tega.” Ia tertawa kecil, ringan, seolah cerita itu bukan apa-apa. “Kalau kamu tahu pekerjaanku, kamu tidak akan khawatir. Saat menjalan
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-31 Mehr lesen