Aresh menatapku lama, lalu tiba-tiba tersenyum dan membuka mulutnya.“Kalau begitu…” Suaranya turun, hampir berbisik, “kamu juga akan mengatakan hal yang sama pada Aaron, kan?”Pertanyaan itu sederhana, tapi entah kenapa rasanya menekan dadaku seperti beban. Berat. Aku terdiam. Untuk sesaat, aku membayangkan wajah Aaron, yang mungkin tak akan suka jika mendengar ini."Bagaimana, Sherry? Kamu tidak akan memberi perlakuan berbeda kepada Aaron, kan?" tanyanya lagi.“Iya,” jawabku akhirnya, pelan tapi berusaha terdengar tegas, “Aku akan mengatakan hal yang sama padanya, Kak.”"Apakah kata-katamu ini bisa dipertanggungjawabkan?" tanyanya, yang membuat aku terdiam lagi."Sherry," panggil Aresh dengan suara sedikit mendesak, sehingga dengan gugup aku pun menjawab."I- iya, Kak. Tentu saja."Aresh mengangguk perlahan. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang nyaris tidak ada—terlalu tipis untuk disebut lega, terlalu kaku untuk disebut ikhlas.“Baiklah,” jawabnya singkat.Aresh lantas berdi
Terakhir Diperbarui : 2026-01-14 Baca selengkapnya