Aresh masih gelisah antara mengikuti Hana ke kencan buta itu atau tidak, sampai ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Hana masuk, singkat: [Tolong, Pak. Jangan lakukan hal bodoh.] Aresh menatap layar itu lama. Lalu ia menghela napas, memasukkan ponsel ke saku, semakin dilarang, semakin ingin ia datang. “Aku hanya ingin memastikan,” gumamnya pada diri sendiri, membenarkan tindakannya. Taksi Hana datang. Ia masuk, menyebutkan alamat restoran yang sudah ia ceritakan siang tadi. Mobil itu melaju meninggalkan halaman gedung. Tanpa berpikir panjang, Aresh berjalan cepat ke mobilnya sendiri. Ia menyalakan mesin, menjaga jarak ketika melihat lampu belakang taksi itu di kejauhan. “Aku tidak akan mendekat,” katanya lagi, seolah sedang meyakinkan dirinya. “Aku hanya akan… memastikan semuanya baik-baik saja.” Di dalam dadanya, perasaan tidak tenang itu terus menggelitik, semakin kuat setiap kali ia membayangkan kemungkinan terburuk. Ia tahu tindakannya mungkin berlebihan, m
Mehr lesen