Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Vanya berdiri di baliknya, sudah berganti pakaian santai: kaus putih longgar dan celana kain hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit kusut, wajahnya tanpa riasan. Kacamata baca masih di ujung hidung. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilan ini, Vanya tiidak rapi seperti biasanya, juga tidak sempurna, tapi justru itu yang membuat Arsion tidak bisa mengalihkan pandangan. "Ada yang perlu dibahas, Pak?" tanyanya, suara Vanya datar. Tidak hangat, tidak dingin, tapi kosong. Arsion menyandarkan bahu ke kusen pintu, lalu menjawab sedatar mungkin."Kamu tidak pulang." "Laporan belum selesai," jawab Vanya, tanpa mau melihat ke arah Arsion. "Selesai jam delapan tadi, aku lihat," balas Arsion, sehingga Vanya terdiam. Ia tahu Arsion bisa mengakses status pekerjaan semua karyawan jika ia mau. Tidak ada alasan. "Baik. Saya tidak ingin pulang. Itu hak saya." "Vanya." Arsion menatapnya lekat, lalu bertanya dengan suara pelan, "Apa yang mem
더 보기