"Oke..." Sherry tidak menolak. Dia membiarkan Aaron membawa anak mereka yang sudah setengah terpejam itu ke dalam kamar. Sambil menunggu, Sherry duduk di kursi meja makan, menatap hidangan sederhana yang disiapkan Aaron. Ada ayam goreng, capcay, dan sambal rumahan. Pria itu benar-benar berusaha membuktikan ucapannya tadi pagi. Tak lama kemudian, Aaron kembali ke dapur setelah melepas kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus oblong putih. Dia duduk di hadapan Sherry, lalu menyodorkan sepiring nasi hangat. "Aku telepon Mama tadi siang, nanya resep capcay biar rasanya pas. Nggak keasinan, nggak hambar," kata Aaron agak salah tingkah, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dicoba dulu, Sayang." Sherry mengambil sendok, mencicipi sedikit kuah capcaynya. Rasanya memang pas. Enak. "Gimana?" tanya Aaron cemas, matanya menatap Sherry tanpa berkedip. "Enak kok. Pas," jawab Sherry singkat, namun tulus. Aaron mengembuskan napas lega yang terdengar sangat kentara. "Syukurla
Read More