Hana tersenyum kecil, matanya berkilat dan menantang Aresh. “Lakukan.” Aresh hampir menyerah, hampir, tapi ponselnya bergetar. Nama “Arsion” muncul di layar. Ia melepaskan Hana dengan kasar dan mundur beberapa langkah. “Keluar.” Hana menggigit bibir, kecewa, tapi patuh. Sebelum keluar, ia berbisik, “Dua minggu sudah lewat besok. Aku nggak akan nunggu selamanya, Aresh,” tutupnya, yang membuat Aresh menghela napas panjang.*** Malam harinya, Aresh duduk di balkon apartemennya ketika ponsel berdering. Arsion. “Apa kabar kakakku yang tersingkir?” sapa Arsion dengan nada sombong. “Masih sibuk main-main dengan sekretaris di perusahaan pinggir jalan itu?” Aresh mengepalkan tangan, bertanya dengan nada kesal, “Apa maumu, Sion?” Arsion tertawa. “Yah, tidak tahu kenapa aku mulai khawatir. Perusahaan kecilmu mulai dapat kontrak bagus. Jangan-jangan kamu mulai serius ya? Atau… ini karena sekretarismu yang cantik itu? Hana, kan? Aku dengar dia cukup setia. Bahkan rela ikut kamu ke ne
Read More