Pagi berikutnya, badai mulai datang. Aresh terbangun dengan Hana masih tertidur di pelukannya. Tubuh wanita itu penuh tanda merah, kissmark di leher, bekas gigitan di payudara, dan memar samar di pinggul karena cengkeraman Aresh semalam. Aresh mencium kening Hana pelan, tapi hatinya sudah gelisah. “Kita harus pulang sebelum ketahuan,” bisiknya. Hana mengangguk lemah. Tubuhnya masih nyeri, berjalan agak tertatih saat mandi. Mereka berpisah di lobi hotel dengan ciuman cepat. Hana pulang ke rumah orangtuanya, sementara Aresh kembali ke rumah Aaron. Tapi konsekuensi sudah menanti. Siang harinya, saat Aresh sedang makan siang bersama Aaron dan Sherry, ponselnya berdering. Nomor Arsion. “Bang Aresh… selamat pagi,” sapa Arsion dengan nada manis beracun. “Nikmati malam di The Grove kemarin?” Aresh membeku. Aaron yang duduk di depannya langsung menyadari ada yang salah. “Apa maksudmu, Sion?” tanya Aresh dingin. Arsion tertawa pelan. “Ada foto-foto bagus. Hana keluar dari ka
Read More