Aurora duduk di bangku kayu gazebo, menikmati angin sore. Di pangkuannya ada seorang bayi yang sedang tertidur lelap—bayi Mbak Sarah yang hari ini di aqiqah-kan.Mbak Sarah duduk santai di samping Aurora, sementara di hadapan mereka, tiga sepupu lainnya, Mbak Mita, Mbak Vina, dan Dea yang sedang sibuk mengunyah batagor."Gila ya, Mbak Rara," celoteh Dea dengan pipi yang masih menggembung. "Suami Mbak cakepnya nggak ngotak. Tadi pas dia benerin kerah batik, gue kira aktor Korea lagi syuting.""Heh, mata dijaga. Itu suami kakak sepupu sendiri," tegur Sarah sembari tertawa kecil.Mita, si sepupu tertua, menatap Aurora yang sedang menepuk-nepuk pantat bayi dengan luwes. "Gimana rasanya jadi istri sultan, Ra? Pasti dimanja banget, ya? Spill dong kehidupan pengantin baru."Aurora tersenyum simpul. "Biasa aja kok, Mbak. Dia... eh, Mas Rasya baik banget. Sabar."Alis Sarah terangkat sedikit mendengar panggilan baru itu. Ia ingat betul, t
Última actualización : 2025-12-25 Leer más