Rasya menuntun Aurora duduk di sebuah kursi lipat di sudut yang agak sepi. Ia berlutut di depan Aurora, mengusap keringat dingin di dahi istrinya. "Kita ke rumah sakit ya? Kamu pucat banget," desak Rasya, melupakan show sejenak. Aurora menggeleng cepat. Rasa pusingnya perlahan mereda setelah ia menjauh dari sumber bau tadi. "Nggak, Mas. Nggak perlu," tolak Aurora, mengambil botol air mineral yang disodorkan Hana. Ia meminumnya sedikit. "Kayaknya gara-gara salad tadi pagi, deh. Mayonesnya kebanyakan, rasanya bikin enek sampai sekarang," alibi Aurora, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan suaminya. "Ditambah bau hairspray tadi, perutku jadi kaget," lanjut Aurora. "Jangan berlebihan, ya. Show tinggal sebentar lagi." Rasya terdiam. Ia menatap istrinya lekat-lekat, mencari tanda-tanda kebohongan. Naluri protektifnya berteriak ingin memastikan kondisi istrinya, tapi ia tahu betapa keras kepalanya Aurora soal pekerjaan. "Oke," Rasya mengalah, tangannya masih menggenggam tanga
Última actualización : 2026-01-20 Leer más