"Aurora? Ini Bunda, Sayang."Aurora panik. Ia buru-buru mengambil kacamata bacanya (untuk menutupi mata bengkak), merapikan baju kusutnya, dan memasang wajah "sibuk"."Masuk, Bun! Nggak dikunci!" seru Aurora. Ia buru-buru bangkit dari lantai, menyambar meteran kain, dan berpura-pura sedang mengukur bahu manekin.Pintu terbuka. Martha masuk membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng madu kesukaan Aurora.Mata tajam Martha langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada wajah putrinya. Sebagai ibu, ia tahu persis mata itu habis menangis. Tapi ia ingat pesan suaminya tadi pagi: Jangan diinterogasi. Rasya sudah izin."Bunda liat dari jendela dapur kok tirai paviliun kebuka," ujar Martha santai, meletakkan nampan di meja. "Kirain hantu, ternyata anak gadis Bunda.""Hehe, iya Bun..." Aurora tertawa canggung, menghindari kontak mata. "Kaget ya?""Sedikit," Martha duduk di sofa kecil, menatap Aurora lembut.
Última actualización : 2025-12-31 Leer más