Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan di kantor Aurora. Kontrak sponsor telah resmi ditandatangani. Bagi dunia luar, dan terutama bagi orang tua mereka, semuanya tampak berjalan mulus. Di kamarnya yang luas, Aurora sedang berdiri di depan cermin, merapikan dress yang ia kenakan. Pikirannya sama sekali tidak fokus pada penampilannya, melainkan pada undangan makan malam yang terasa janggal ini. Pintu kamarnya terbuka dan Martha masuk dengan wajah ceria. "Wah, putri Bunda cantik sekali," pujinya sambil merapikan rambut Aurora. "Keluarga Pradana pasti terpesona melihatmu." Aurora menatap pantulan wajah bundanya di cermin dengan kening berkerut. "Bun, aku masih nggak ngerti," ucap Aurora, akhirnya menyuarakan kebingungannya. "Nggak ngerti apa, Sayang?" "Ini kan butikku, ya, yang disponsori oleh perusahaan mereka," jelas Aurora, nadanya terdengar seperti sedang menganalisis sebuah kasus bisnis. "Secara logika, seharusnya kita yang berterima kasih dan mentraktir mereka makan
Ler mais