Rumah ini selalu punya cara untuk membuat tamunya merasa kecil. Langit-langitnya tinggi, seolah menyerap setiap suara yang ada di dalamnya.Pelayan tua yang tempo hari menyambutku hanya mengangguk singkat, lalu mengantarku menuju teras belakang yang sama.Miranda sudah di sana.Ia duduk membelakangi pintu masuk, menatap taman yang kini mulai kehilangan cahaya matahari. Rambutnya tersanggul rapi, dengan gaun yang membuat dirinya terlihat anggun.Di atas meja kayu di depannya, dua cangkir teh sudah tersedia. Seolah dia sudah tahu persis aku datang sendiri."Duduklah, Anya," suaranya tenang, tanpa menoleh. "Kau datang sendiri. Keberanianmu meningkat, atau rasa penasaranmu tidak dapat terbendung?"Aku duduk di kursi kayu di hadapannya. "Mungkin keduanya," jawabku pelan.Miranda menoleh. Ia menuangkan teh ke dalam cangkirku. Uapnya mengepul, membawa aroma chamomile yang menenangkan."Tama tahu kau kesini?" tanyanya ringan."Tidak. Aku meninggalkan pesan di kamar."Miranda menyunggin
Leer más