Hening menyelimuti kami setelah nama Damian keluar dari mulutku. Aku tak berkata apapun setelahnya.Tama tidak langsung mengiyakan maupun membantahku.Ia terdiam cukup lama, menatap lurus ke arah layar televisi yang masih menampilkan birunya samudera, seolah sedang menyusun kembali ribuan data di kepalanya.“Dia salah satu yang kucurigai,” ucap Tama akhirnya. Suaranya rendah dan datar, namun ada nada berat yang tidak bisa ia sembunyikan. “Tapi aku belum bisa memastikannya, Anya. Sampai detik ini aku tidak punya bukti konkret. Dia terlalu rapi. Sejak dulu, dia bekerja sangat rapi. Karena itu Ayah sangat percaya padanya.”Aku menatap profil samping wajahnya. “Aku tak tahu apa ini waktu yang tepat,”“Aku pernah membahasnya sekilas denganmu, saat itu aku bilang bahwa aku bertemu Damian di kafe. Namun ada hal yang belum ku beri tahu. Tepat setelah dia pergi, pesan itu muncul kembali. Katanya dia sudah datang sesuai janji,” lanjutku.Tama menatapku tajam. Rahangnya mengatup rapat, dan
Read more