Detik jam di dinding menjadi satu-satunya suara selama beberapa detik.Aku tidak langsung menjawab. Pikiranku bekerja cepat.Menyusun skenario, mencari pintu keluar yang bisa membebaskanku sekali lagi.Namun, Tama tak melepaskan pandangannya.Ia tak bergerak sedikitpun, mengunci pergerakan sekaligus perhatianku."Kau terlalu serius, Tama," aku mencoba tertawa kecil.Suara yang keluar terdengar asing bahkan di telingaku sendiri. Aku menutup buku itu perlahan."Apa setiap pertanyaan tentang masa lalu selalu berujung menjadi interogasi bagimu?"Tama tidak bergeming. Matanya masih mengunci mataku. "Hanya jika pertanyaan itu datang dari orang yang biasanya tidak peduli pada kehidupan pribadi orang lain, terutama seorang pengacara tua.""Aku hanya bosan," aku mengalihkan pandangan ke arah lampu tidur, menghindari tatapannya. “Kau janji tak akan bohong padaku, Anya.”Aku diam selama beberapa saat."Kemarin di teras, Ibu mengatakan beberapa hal yang membuatku berpikir. Itu saja. Tak ada k
Leer más