Alarm berbunyi pukul tiga lewat lima puluh.Aku sudah bangun sebelum itu.Rumah masih sepenuhnya gelap ketika aku turun ke bawah. Udara dini hari terasa lebih tipis, sedikit lembab, dan terlalu sunyi untuk disentuh suara apapun.Beberapa menit kemudian Tama muncul di ambang pintu kamar.Rambutnya masih sedikit berantakan, kemeja kasual yang jarang ia pakai jatuh santai di bahunya.“Kita berangkat sekarang?” tanyanya, suaranya masih berat oleh sisa tidur.“Iya.”Ia mengangguk, lalu berjalan ke arah garasi tanpa banyak bicara.Tama membuka pintu pengemudi ketika aku berkata ringan,“Kali ini kau tak menyetir, Tama.”Tangannya berhenti di handle pintu.Ia menoleh pelan. “Kenapa?”“Aku sudah panggil sopir.”Keningnya berkerut tipis. “Sopir?”“Iya.”“Siapa?”Aku melangkah mendekat, lalu dengan santai mendorong pintu yang hendak ia buka hingga tertutup kembali.“Geser,” kataku pelan.Ia menatapku satu detik penuh, lalu—tanpa benar-benar melawan—berpindah setengah langkah ke samping.Aku me
Read more