“Papa harus pergi lagi?” rengek Luna, menjatuhkan tubuhnya dalam posisi tengkurap di atas ranjang orang tuanya, tepat di samping tas milik Bestian.Ayahnya melirik sekilas dari sudut mata sambil tetap melipat pakaian. “Ya, ini tugas mendadak dan tidak bisa ditunda, Luna.”Di dekat lemari, Jiyya melepaskan mantel dari gantungan lalu menoleh ke arah putrinya. “Ada yang namanya kewajiban diatas hak, Luna,” ujarnya lembut.“Aku tahu,” Luna menghela napas panjang. “Tapi…”Ia terdiam. Pandangannya jatuh ke kasur, jari telunjuknya saling bersentuhan gugup.“Kali ini Papa tidak akan pergi lama, ‘kan?” tanya gadis itu lagi akhirnya.Bestian menghentikan gerakannya. Kemeja yang hendak ia masukkan ke dalam tas diletakkan ke samping, lalu tangannya terulur menyentuh kepala putrinya. “Iya kali ini mungkin hanya beberapa minggu,” jawabnya.“Tapi Papa pasti kembali, kan?” Luna bersikeras lirih, menengadah menatap mata gelap ayahnya.“Ya,” ucap Bestian mantap, sembari mengacak rambut putrinyanya ring
Last Updated : 2026-02-01 Read more