“Jo… an, aku harus pergi…” protes Jiyya, meski suaranya terdengar lebih seperti erangan daripada penolakan sungguhan, saat pria berambut hitam itu mendorong pahanya semakin terbuka dan perlahan menjilat pusat kenikmatannya seolah sengaja mengulur waktu sebisa mungkin. “Aku… nghh… harus mandi…”Lidah sang pria menyelinap masuk sejenak, lalu kembali menyusuri titik itu, memancing helaan napas tajam yang tak bisa ia cegah. Jiyya berusaha keras mempertahankan kewarasannya. “Joan… aku harus mandi…” Namun Joan tak mau peduli, pria itu justru mengulangi perbuatannya, dan tanpa sadar jari-jari Jiyya menyusup ke rambutnya. “…sebelum pulang…”“Mm,” gumamnya rendah dibawah sana, lalu menekan lidahnya dan menggerakkannya sepanjang lipatan tubuh Jiyya. “Kau bisa sedikit terlambat…” Suaranya yang dalam bergetar di kulit Jiyya yang sudah terbakar gairah ketika jari panjang pria itu masuk dan melengkung ke atas. “Percayalah.”“Ya Tuhan ahh…” Jiyya terengah, mencengkeram kepala Joan lebih erat, lalu m
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-05 Mehr lesen