Pagi itu datang dengan sunyi yang terasa ganjil. Cahaya matahari menembus celah dinding papan kamar, jatuh miring di lantai kayu yang mulai kusam.Udara masih dingin, sisa embun malam belum sepenuhnya menguap. Di luar, dedaunan yang ada di kebun teh bergoyang pelan, seolah dunia tetap berjalan normal, padahal di dalam kamar kecil itu, dua jiwa terjebak dalam perang batin yang tak terlihat.Andini duduk bersandar di kepala ranjang. Selimut masih melilit tubuhnya, bahunya sedikit menegang, seolah bersiap jika sewaktu-waktu harus melarikan diri. Matanya menatap kosong ke arah jendela kecil, tapi sesungguhnya pikirannya berputar jauh ke tempat yang penuh luka.Radit berdiri beberapa langkah dari ranjang, ragu untuk mendekat. Semalam hampir tak memejamkan mata. Kalimat-kalimat Andini terus bergema di kepalanya, menusuk, mematahkan, tapi juga menguatkan tekadnya.Dia tahu, ini tidak akan mudah. Dan dia tahu, dia pantas menerima semua penolakan ini.Dengan langkah pelan, Radit mendekat samb
Last Updated : 2025-12-14 Read more