ANMELDENKesadaran Jessica perlahan mulai kembali, rasanya seperti seseorang yang dipaksa naik ke permukaan setelah tenggelam terlalu lama.Awalnya Jessica hanya merasa tidak nyaman. Lalu detik berikutnya Perutnya mulai terasa aneh. Bukan nyeri yang menusuk, melainkan sensasi seperti sebuah gelombang berputar-putar di dalam perutnya yang membuat dadanya sesak.Mendadak Jessica juga merasa asam di tenggorokannya naik perlahan, membuat napasnya semakin terasa pendek. Dia benar-benar merasa tidak nyaman.Jessica mengerang pelan.Belinda yang tertidur berada pada posisi setengah duduk langsung terbangun.“Jessi?” panggilnya panik.Jessica membuka mata setengah. Cahaya lampu terasa terlalu terang, terlalu tajam. Kepalanya berdenyut.Tubuhnya terangkat refleks. Tangannya mencengkeram seprai. Rasa mual itu memuncak tanpa peringatan dan segera mungkin ingin dikeluarkan.Jessica turun dari ranjang tergesa-gesa sambil mendorong tiang infusnya sendiri, Belinda dengan sigap mengikuti Jessica.Lalu, tiba-
Langkah tergesah Andini terhenti tepat di depan pintu ruang rawat inap.Tangannya yang sejak tadi menggenggam lengan Naren perlahan terlepas. Dadanya terasa sesak. Udara di lorong rumah sakit itu seolah lebih berat dari biasanya, menekan paru-parunya tanpa ampun.Bau antiseptik yang tajam membuat matanya perih, bukan karena baunya semata, melainkan karena kenyataan yang perlahan menampakkan wajahnya.Pintu ruang rawat inap itu didorong pelan, saat pintu terbuka, di sanalah di atas ranjang yang memakai sprei putihJessica terbaring lemah, tubuhnya tampak jauh lebih kecil dari yang Andini ingat.Kulitnya pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu temaram. Selang infus terpasang di tangannya, dan alat monitor berdetak pelan, menjadi satu-satunya bukti bahwa tubuh itu masih terus berjuang.Andini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah.“Ya Tuhan.” bisiknya lirih.Ini bukan Jessica yang dia kenal.Bukan perempuan ceri
Malam semakin larut. Lampu di ruang rawat inap diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang jatuh lembut di wajah Jessica.Suara mesin monitor masih berdetak teratur, menjadi satu-satunya penanda bahwa waktu terus berjalan meski hati mereka seolah tertahan di satu titik yang sama.Jessica tertidur. Namun tidurnya bukan tidur yang tenang. Alisnya berkerut. Nafasnya berubah tidak beraturan. Jari-jarinya menggenggam selimut seolah sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang nyaris direnggut kembali.“Kenz…”Suara itu keluar lirih, patah.Belinda yang duduk di sisi ranjang langsung terbangun.“Jessi?” panggilnya panik.Tubuh Jessica tiba-tiba menegang. Kepalanya menggeleng lemah ke kanan dan kiri, keringat dingin membasahi pelipisnya.“Jangan, jangan sentuh aku.” gumamnya dengan suara bergetar.“Gelap, aku nggak bisa bernafas.”Belinda berdiri, tangannya gemetar menyentuh bahu putrinya.“Jessi, ini Mami. Kamu aman, Nak.”Namun Jessica tidak mendengar.Matanya masih terpejam, tapi air mata m
Disaat suara Isak tangis itu terdengar samar Kenzo dan William baru saja tiba dirumah sakit.Mereka baru saja pulang dari kantor polisi memantau hasil dari penyelidikan polisi dari hasil interview dengan laki-laki yang mereka tangkap malam itu.Dan saat ini laki-laki bertubuh gendut itu masih dianggap sebagai tersangka utamanya.Kenzo berdiri di ambang pintu.Langkahnya terhenti sebelum benar-benar masuk. Dadanya naik turun perlahan, tapi nafasnya terasa berat, seakan setiap tarikan udara mengandung beban yang tak kasat mata.Saat Jessica yang berada di dalam ruang rawat inap menyadari kehadiran Kenzo dan William.Matanya membulat, tatapan Jessica terpaku ke arah ambang pintu, tepat pada sosok yang berdiri di sana.Dunia seolah berhenti bergerak dalam satu detik yang terasa begitu menyakitkan.Jantung Jessica berdetak terlalu cepat, seakan ingin keluar dari dadanya. Nafasnya tercekat, jantungnya mendadak seperti lupa cara bekerja. Seluruh tubuhnya menegang, kaku, seperti ada gelomban
Kejadian malam itu menyisakan luka serta tanda tanya besar bagi keluarga Parker dan Kenzo pastinya.Penyelidikan tentang siapa dalang sebenarnya terus diusut, namun kunci utama untuk mereka bisa bergerak bebas masih berada pada Naren.Dan saat ini Naren sedang dalam perjalan menuju Kurta.Sudah tiga hari lamanya Jessica dirawat dirumah sakit. Dihari ketiga ini Jessica mulai menunjukan tanda-tanda jika dia akan sadar.Belinda yang selama ini terus berada disamping putrinya itu, terlihat menutup mulut dengan kedua tangannya saat melihat pergerakan kecil dari Jessica.Terdengar Jessica menggeram pelan.Walaupun saat ini kesadaran Jessica sepenuhnya masih belum kembali. Tapi dia bisa merasakan jika udara di sekitarnya terasa sangat berbeda, lebih dingin, menusuk sampai ke tulang, membuat tubuhnya refleks menggigil meski dia berbalut selimut tebal.Begitu Jessica mencoba untuk bernapas lebih dalam, bau tajam dari antiseptik langsung terasa begitu menusuk indra penciumannya.Suasana di rua
Suara tembakan itu seakan saja membuat jantung mereka sesaat berhenti berdetak. Dengan tergesa-gesa William langsung berdiri, sampai gelas yang berisi teh hangat yang ada di atas meja jatuh ke lantai dan pecah.“Jessica!” Belinda berteriak wajahnya pucat, nafasnya terasa tersangkut di tenggorokan.Kenzo bahkan tidak menunggu satu detikpun. Tubuhnya sudah bergerak lebih dulu, berlari menaiki tangga dengan langkah panjang dan berat, seolah setiap anak tangga adalah jarak hidup dan mati untuknya. Belinda menyusul di belakang, gaunnya berkibar, napasnya terengah, matanya mulai basah bahkan sebelum dia tahu apa yang akan mereka temukan.Langkah-langkah itu menggema di lorong lantai atas. Sunyi yang menyesakkan menyelimuti rumah megah itu, sunyi yang terasa tidak wajar, terlalu tenang untuk sebuah rumah yang baru saja ditembus suara senjata api.Kenzo tiba di depan pintu kamar Jessica lebih dulu. Saat setengah dari pintu kamar itu terbuka.Disanalah dunia Kenzo runtuh seketika.“Jessica!!”







