Malam mengetuk dengan cara yang berbeda.Bukan ketukan di pintu, melainkan pada kesadaran—halus, nyaris tak terdengar, seperti hujan pertama yang jatuh sebelum orang sempat menyiapkan payung. Aira terbangun oleh bunyi air menyentuh jendela. Ia tidak terkejut. Ada jenis suara yang tidak mengusik tidur, justru merapikan pikiran.Ia bangun perlahan, menyibakkan selimut, dan berjalan ke jendela. Hujan turun tipis, membasahi kota dengan kesabaran. Lampu jalan memantul di aspal, mencipta garis-garis cahaya yang bergerak. Aira menempelkan telapak tangan ke kaca—dingin, nyata—dan tersenyum kecil. Malam ini tidak meminta apa-apa darinya. Ia hanya datang.Aira menyiapkan teh hangat. Uapnya naik, membawa aroma yang menenangkan. Ia duduk di kursi dekat jendela, membiarkan waktu mengalir. Di luar, orang-orang berjalan cepat, melindungi diri dari basah. Di dalam, Aira belajar tinggal.Ia membuka buku catatan, membalik halaman kosong. Pena menyentuh kertas, lalu berhenti. Ia tidak
Read more