Jam tua itu tergantung miring di dinding ruang tengah. Kacanya retak halus, seperti pernah dipukul sesuatu yang tidak berniat merusak, hanya ingin keluar. Jarumnya berhenti di angka yang sama sejak lama—entah pukul berapa, entah hari apa. Aira menatapnya lama, seakan jam itu bisa menjawab pertanyaan yang tak berani ia ucapkan.“Waktu di rumah ini… tidak berjalan,” gumamnya.Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikan cara cahaya siang masuk tanpa benar-benar menyinari apa pun. Ia hanya hadir, tipis dan ragu, seperti seseorang yang datang karena janji lama, bukan karena ingin.“Bukan tidak berjalan,” kataku pelan. “Mungkin ia menunggu.”Aira menoleh. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, tapi matanya jernih—jernih dengan cara yang membuatku khawatir. Jernih seperti seseorang yang sudah menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa dihindari.“Menunggu apa?” tanyanya.Aku tak langsung menjawab. Di rumah itu, setiap kata terasa seperti batu kecil yang bisa memicu
Terakhir Diperbarui : 2025-12-27 Baca selengkapnya