LOGINAda hari-hari ketika sesuatu terasa mendekat,
tanpa pernah benar-benar memanggil.Aira merasakannya pagi itu.Ia terbangun bukan oleh mimpi, melainkan oleh perasaan samar—seperti udara yang berubah arah. Tidak dingin, tidak hangat. Hanya berbeda. Ia membuka mata dan menatap langit-langit, membiarkan perasaan itu hadir tanpa diberi nama.Ia tidak bertanya.Ia sudah belajar.Aira bangkit, merapikan tempat tidur, lalu membuka jendela. Cahaya pagi masuk dengan tenang, menyentuh sudut-sudut kamar yang kini terasa akrab. Ia berdiri sejenak, membiarkan dirinya tersambung pada hari tanpa niat menguasainya.Di dapur, ia menyiapkan minuman hangat. Uap mengepul perlahan, seperti napas yang terlihat. Aira mengaduk pelan, mendengarkan suara sendok menyentuh cangkir. Ritme kecil itu menenangkannya. Tidak ada yang perlu dipercepat.Ia duduk dan menyesap. Rasa hangat menyebar di dada. Pikirannya jernih, tidak kosong, tidak penuh. Seimbang.Hari ini, Aira tidak meKeputusan itu tidak datang dengan ledakan.Ia datang seperti pagi yang akhirnya memilih terang—perlahan, pasti.Aira mengirim balasan singkat di sore hari. Kalimatnya sederhana, nyaris datar, tanpa embel-embel penjelasan. Ia menulis bahwa ia akan datang, menyebutkan waktu kedatangannya, lalu menutup pesan dengan sopan. Tidak ada tanda baca berlebihan. Tidak ada kalimat yang membuka pintu percakapan lain.Setelah mengirimkannya, Aira meletakkan ponsel di meja dan berdiri. Tidak ada getar di dada. Tidak ada perasaan menunggu balasan. Keputusan itu terasa selesai—seperti menyimpan barang pada tempatnya.Ia tahu, datang bukan berarti membuka kembali apa yang telah ia tutup. Datang adalah cara untuk berdiri di hadapan masa lalu dengan tubuh yang tidak lagi rapuh.Hari-hari berikutnya berjalan wajar. Aira tetap bangun pagi, tetap berjalan, tetap menulis. Ia tidak menyiapkan diri secara emosional berlebihan. Yang ia siapkan hanyalah dirinya yang sekarang—jujur, stabil,
Pagi itu tidak membawa firasat apa pun.Aira bangun seperti biasa, dengan cahaya yang jatuh wajar di dinding kamar dan suara kota yang mulai hidup perlahan. Tidak ada mimpi yang tertinggal. Tidak ada bayangan yang mengejar dari sisa tidur. Semuanya terasa stabil, bahkan nyaris datar.Dan justru karena itulah, ia tidak menduga apa yang akan datang.Ia sedang merapikan meja kecil di dekat jendela ketika ponselnya bergetar. Satu getaran singkat. Bukan nada pesan yang mendesak, hanya penanda bahwa sesuatu masuk ke ruang pribadinya. Aira tidak segera meraih ponsel itu. Ia menyelesaikan dulu apa yang sedang ia lakukan—melipat kain, menyusunnya rapi.Baru setelah itu, ia mengambil ponsel dan melihat layar.Sebuah pesan.Nama pengirimnya membuat jarinya berhenti sepersekian detik lebih lama dari biasanya. Bukan karena kaget, bukan pula karena rindu yang tiba-tiba menyeruak. Lebih seperti jeda naluriah—sebuah pengenalan terhadap sesuatu yang sudah lama tidak muncul.
Aira menyadari sesuatu yang halus pagi itu:ada hal-hal yang dulu ia tunggu dengan sabar,kini tidak lagi ia tunggu—tanpa rasa kecewa.Ia terbangun dengan cahaya pagi yang sudah lebih berani masuk ke kamar. Tirai terbuka setengah, membiarkan garis-garis cahaya jatuh di lantai. Aira menatapnya sebentar, lalu bangkit. Tidak ada perasaan kehilangan karena tidak ada yang datang. Tidak ada kegembiraan berlebihan karena tidak ada yang dijanjikan.Ia merasa stabil.Di kamar mandi, air mengalir hangat. Aira membiarkan air menyentuh kulitnya lebih lama dari biasanya, bukan karena ingin berlama-lama, tetapi karena ia tidak terburu-buru keluar dari momen itu. Ia menyadari betapa sering ia dulu mempercepat hal-hal kecil, seolah takut tertinggal oleh hidup.Kini, ia membiarkan hidup menyusulnya dengan sendirinya.Setelah berpakaian sederhana, Aira menuju dapur. Ia menyiapkan sarapan tanpa suara tambahan. Tidak ada musik. Tidak ada berita. Ia hanya ingin mendengar
Aira mulai menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar berlari.Ia hanya bergerak.Dan manusialah yang sering terburu-buru mengejarnya.Pagi itu, Aira terbangun dengan cahaya lembut yang menempel di dinding kamar. Jam menunjukkan angka yang tidak istimewa. Tidak terlalu pagi, tidak pula kesiangan. Ia tersenyum kecil—dulu, angka-angka seperti itu sering membuatnya gelisah, seolah waktu selalu menilai caranya hidup. Kini, angka hanya penanda, bukan hakim.Ia duduk di ranjang, menurunkan kaki ke lantai, dan merasakan dinginnya menyentuh telapak. Sensasi itu nyata, menegaskan keberadaannya di sini, sekarang. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Tidak ada yang tertinggal.Tidak ada yang harus dikejar.Aira berdiri dan membuka jendela. Udara pagi masuk dengan santai, membawa aroma kota yang baru bangun. Di kejauhan, suara kendaraan mulai terdengar, namun tidak mendominasi. Dunia bergerak, dan ia tidak merasa tertinggal di belakangnya.
Pagi itu datang tanpa membawa janji.Aira terbangun dengan perasaan yang tenang, seperti permukaan air yang nyaris tak beriak. Tidak ada mimpi yang tertinggal, tidak ada bayangan yang memaksa diingat. Ia membuka mata dan membiarkan cahaya pagi menyentuh sudut kamar, pelan dan sopan.Ia tidak langsung bangkit.Ia belajar bahwa tidak semua hari perlu diawali dengan gerak.Beberapa detik berlalu. Aira menarik napas dalam, merasakan dadanya mengembang lalu mengempis. Tubuhnya terasa ringan, bukan karena tidak ada beban, melainkan karena ia tidak lagi memikulnya sendirian. Ia duduk, merapikan selimut, lalu berdiri.Di depan jendela, ia membuka tirai. Langit tampak biasa—tidak terlalu cerah, tidak juga muram. Aira menyukainya. Langit yang tidak berlebihan selalu memberinya rasa aman. Ia berdiri sebentar, memperhatikan bagaimana pagi membentuk dirinya sendiri tanpa perlu disaksikan.Di dapur, Aira menyiapkan minuman hangat. Uap mengepul, mengabur sebentar sebelum le
Aira mulai memahami bahwa diam bukan lagi tempat bersembunyi.Pagi itu datang tanpa kejutan. Tidak ada perasaan samar seperti kemarin, tidak ada isyarat yang mengetuk pelan. Hanya pagi yang bersih, jujur, dan tidak menuntut apa pun. Aira membuka mata dan merasa utuh—bukan karena tidak ada kekurangan, melainkan karena ia tidak lagi sibuk menghitungnya.Ia duduk sebentar di ranjang, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan cahaya. Tidak ada pikiran yang berlari lebih dulu. Ia menikmati momen singkat sebelum hari bergerak, seperti berdiri di tepi air sebelum kaki benar-benar basah.Aira bangkit, merapikan tempat tidur, lalu membuka jendela. Udara masuk dengan lembut. Daun tanaman kecil yang kemarin ia beli bergerak pelan tersentuh angin. Ia memperhatikannya sejenak, lalu tersenyum.“Aku juga tidak terburu-buru,” katanya pelan, entah pada tanaman itu atau pada dirinya sendiri.Di dapur, Aira menyiapkan minuman hangat dan sarapan sederhana. Ia melakukan semuanya t







