Rabu Siang. Menara Adhiguna.Arka duduk di kursi kebesarannya, menatap layar ponsel yang baru saja menjadi gelap. Panggilan video itu telah berakhir, namun bayangan yang tertinggal di retina matanya masih membakar dengan jelas.Di layar tadi, dia melihat Dimas Barata. Adiknya itu bertelanjang dada, rambutnya basah acak-acakan, dengan latar belakang kamar hotel kayu yang hangat di Tromsø. Di belakang Dimas, terlihat ujung tempat tidur dengan sprei yang berantakan sangat berantakan."Sorry, Kak. Bella lagi mandi. Kita baru balik dari... main salju. Dingin banget, butuh yang anget-anget," kata Dimas tadi sambil mengedipkan sebelah mata, sebelum memutus sambungan.Arka melempar ponselnya ke meja kerja dengan gerakan lemas, bukan marah.Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, memejamkan mata. Napasnya berat.Yang dia rasakan saat ini bukanlah amarah seorang kakak yang protektif, melainkan rasa iri yang murni dan menyakitkan dari seorang pria.Di benaknya, Arka membayangkan apa yang ter
آخر تحديث : 2026-02-06 اقرأ المزيد