Kamar itu hangat bukan karena suhu ruangan, melainkan karena dua tubuh yang saling melekat tanpa jarak. Tirai jendela tertutup rapat, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur yang memantul lembut di dinding. Di sanalah Narine berbaring setengah tengkurap di dada Arkana, wajahnya bersandar nyaman, napasnya pelan dan teratur.Lengan Arkana melingkar di punggung Narine, telapak tangannya mengusap perlahan, naik-turun, seolah menenangkan sesuatu yang bahkan Narine sendiri tidak sempat ucapkan. Sentuhan itu konsisten, penuh kebiasaan, penuh rasa memiliki bukan posesif, melainkan protektif sangat protektif.Narine mendengus kecil. “Capek,” gumamnya lirih.“Kasian banget cintanya aku ,” jawab Arkana tanpa membuka mata. “Sini peluk dulu, bukan nempel aja.”“Aku tuh nempel karena kamu empuk,” bantah Narine malas.Arkana terkekeh pelan. “Heleh heleh.”Narine menggeser wajahnya sedikit, pipinya kini tepat di atas jantung Arkana. Detak itu terasa jelas, stabil. Aman. Ia menarik napas panj
Última actualización : 2026-02-03 Leer más