Mobil melaju pelan meninggalkan garis pantai yang perlahan tenggelam dalam gelap. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela, membentuk bayangan panjang yang bergerak seirama dengan desah napas Narine. Tubuhnya lelah kulitnya masih terasa asin oleh angin laut, pundaknya pegal karena seharian berdiri, tersenyum, berjalan, lalu mengulangnya lagi demi satu bingkai foto yang sempurna. Namun di balik kelelahan itu, dadanya hangat, penuh oleh sesuatu yang sulit ia jelaskan.Arkana menyetir dengan satu tangan, tangan satunya sesekali meraih jemari Narine, menggenggamnya ringan seolah memastikan ia masih di sana.“Kamu sadar nggak,” katanya sambil melirik, senyum kecil terselip di sudut bibir, “aku bakal susah ngajak kamu pulang abis ini. Terlalu cantik. Gak mau jauh-jauh sama kamu bek.”Narine mendengus pelan, memalingkan wajah ke jendela agar Arkana tak melihat senyum yang mengembang tanpa izin. “Jangan gombal. Aku capek. Males ladenin nya.”“Capek tapi kamu happy kan hari ini,” balas Arkan
Dernière mise à jour : 2026-02-09 Read More