Narine duduk di sudut sofa apartemennya dengan lutut ditarik ke dada. Lampu ruang tamu sengaja ia redupkan, hanya menyisakan cahaya kekuningan dari standing lamp di dekat jendela. Matanya sembap, hidungnya memerah, dan tisu sudah menumpuk di meja kecil di depannya.Pintu diketuk beberapa kali, agak terburu-buru.“Maya…”Begitu pintu terbuka, Maya langsung disambut pemandangan sahabatnya yang biasanya rapi dan tegar itu sekarang berantakan, rambutnya diikat asal, pipinya basah oleh sisa air mata.“Ya Tuhan, Narine…” Maya buru-buru menutup pintu dan meletakkan tasnya. “Kenapa? Kok kayak habis ditonjok gini mukanya?”Narine mengangkat wajahnya. Bibirnya bergetar, dan tanpa peringatan, air matanya kembali tumpah. Maya langsung duduk di sebelahnya, menarik tubuh Narine ke pelukan.“Arkana…” suara Narine serak, hampir tak terdengar. “Dia marah banget sama gue tadi.”Maya terdiam sepersekian detik. Alisnya sedikit berkerut, antara kaget dan bingung. “Marah? Marah kenapa? Kalian kan baik-baik
Last Updated : 2026-01-22 Read more