Malam itu udara terasa lebih sunyi dari biasanya.Di kamar, Narine sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Perutnya yang sudah sangat besar terlihat lebih turun dari biasanya. Arkana berdiri di depan lemari, untuk kesekian kalinya membuka tas rumah sakit.“Arkana,” suara Narine terdengar geli sekaligus lelah, “itu tas udah kamu cek tiga kali.”“Aku cuma pastiin sayang, takutnya ada yang ketinggalan” jawabnya tanpa menoleh. “Baju kamu, baju Baby A, dokumen, charger, snack—”“Kalau kamu masukin dispenser sekalian aja biar lengkap.”Arkana berhenti, menoleh dengan wajah serius. “Lucu ya?”Narine tertawa kecil, lalu tiba-tiba terdiam.Tangannya refleks memegang perut.Arkana langsung waspada. “Kenapa?”Narine menarik napas pelan. “Perutku kenceng banget.”Arkana sudah di sampingnya dalam satu detik. “Sakit?”“Enggak, cuma kayak ditarik.”Mereka saling pandang.Tiga puluh detik kemudian rasa itu mereda.“Kontraksi palsu?” tanya Arkana pelan.“Mungkin,” jawab Narine, mencoba santai.Dua p
Last Updated : 2026-03-01 Read more