Pelukan itu berlangsung lama. Vennesa memeluk Ben erat-erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya. Air matanya menetes deras, membasahi bahu Ben. “Kenapa begitu lama, Ben…” suaranya serak. “Aku hampir gila menunggumu.” Ben mengusap pipinya lembut, bibirnya menempel di kening wanita itu. “Sst… aku sudah di sini, Ven. Aku pulang,” ucapnya pelan. “Jangan menangis lagi, sayang. Aku janji, aku tak akan pergi lagi.” Vennesa terisak. “Kau tahu betapa aku takut kehilanganmu…” Ben menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku minta maaf… untuk segalanya.” Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Vellery membawa minuman hangat, meletakkannya di meja. Ia duduk di sisi lain, matanya masih sembab menahan haru. Kapten Renz mengambil tempat berseberangan, sikapnya tenang tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang serius. “Baik,” ujar Kapten Renz membuka percakapan, suaranya mantap. “Sekarang saatnya kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ben menunduk. Ia
Last Updated : 2026-01-03 Read more